Minggu, 10 Juni 2012

TUGAS MATA KULIAH KOLABORATIF


ENAM  MITOS DALAM PEMBELAJARAN KOLABORATIF  YANG SALAH  MENURUT JONSON AND JONSON, 1984 : 73


1. Sekolah seharusnya menekankan persaingan.

Mitos ini adalah persaingan  yang tidak sehat, karena seharusnya untuk meningkatkan prestasi belajar, siswa harus  saling mendukung untuk bekerjasama. Bukan saling menjatuhkan satu sama lainnya yang pada akhirnya akan merugikan kelompok itu sendiri.Untuk meraih prestasi siswa harus saling bekerjasama, berdiskusi, saling bertukar pendapat dalam suasana belajar yang sangat menyenangkan.

pembelajaran kolaboratif adalah sebagai strategi motivasi yang mencakup semua situasi belajar, dimana siswa bekerja dalam kelompok untuk mencapai tujuan belajar tertentu dan saling bergantung untuk berhasil mencapai tujuan. Forsy, McMillan (1994) menekankan motivasi intrinsik sebagai elemen kunci dalam mengajar dan belajar, seperti halnya Wlodowski, inklusi, melahirkan kompetensi, dan meningkatkan makna dalam diri siswa yang beragam.

Pembelajaran kolaboratif membentuk suasana kerjasama dan membantu sekolah (Deutsch 1975). Pembelajaran kolaboratif memfokuskan perhatian pada prestasi kelompok maupun individu. Kerja tim adalah modus operandi dan mendorong kerja sama antar-kelompok. Bahkan ketika kompetisi kelompok digunakan (Slavin 1987), tujuannya adalah untuk membantu menciptakan lingkungan yang positif.

Fungsi dari pembelajaran kolaboratif adalah untuk membantu siswa menyelesaikan perbedaan secara damai. Mereka perlu diajarkan bagaimana untuk menantang ide-ide dan untuk mempertahankan posisi mereka tanpa pernyataan personalisasi mereka.

Di kelas kolaboratif, siswa dapat diberikan peran dalam rangka membangun saling ketergantungan  dalam kelompok-kelompok. Peran-peran ini sering menjadi jenis teori motivasi masyarakat dan telah menunjukkan atau membuktikan bahwa penerapan secara langsung di dalam kelas dengan kelompok kecil yang memecahkan masalah dalam kehidupan siswa akan meningkatkan motivasi untuk belajar (Wlodowski 1985)

Pembelajaraan kolaboratif meningkatkan ketekunan siswa dan kemungkinan berhasil menyelesaikan tugas (Felder 1997). Ketika individu terjebak mereka lebih cenderung untuk menyerah, namun kelompok jauh lebih mungkin untuk menemukan cara untuk terus berjalan. Konsep ini diperkuat oleh Johnsons (1990 p121) yang menyatakan, “Dalam situasi belajar, sasaran prestasi siswa berkorelasi positif, siswa dalam kelompok belajar juga mencapai tujuan mereka. Dengan demikian, siswa mencari hasil yang bermanfaat bagi semua orang dengan siapa mereka terkait bekerja sama.


2. Siswa yang berkemampuan di bebani dengan bekerja dalam kelompok belajar yang heterogen.
    
Mitos ini tidaklah benar karena tidak selamanya siswa yang berkemampuan bisa dalam segala hal, tanpa ada kekurangan dalam dirinya. Siswa yang berkemampuan tinggi seharusnya tidak dibebani dengan tugas yang berat, melainkan siswa tersebut saling membantu dan membimbing satu sama lainya. Dengan pembelajaran kolaboratif siswa bisa saling mengisi satu sama yang lain

Pembelajaran kolaboratif mendorong interaksi siswa di semua tingkat (Webb 1982). Penelitian telah menunjukkan bahwa ketika siswa berkemampuan tinggi bekerja dengan siswa dari kemampuan yang lebih rendah, manfaat pertama dengan adanya pembelajaran kolaboratif siswa yang berkemampuan dapat saling bekerjasa dengan siswa yang kurang  berkemampuan  dan manfaat kedua dengan melihat pendekatan untuk pemecahan masalah dimodelkan oleh peer (Johnson & Johnson 1985, Swing, Peterson 1982: Hooper & Hannafin, 1988).

Pemanasan dan pembangunan kegiatan kelompok membantu siswa untuk memahami perbedaan mereka dan mereka pun belajar bagaimana untuk memanfaatkan diri mereka sendiri dari pada menggunakannya  untuk pertentangan.


3. Setiap anggota melakukan tugas dan mendapat nilai yang sama

Mitos ini tidaklah benar karena siswa tidak bisa mengerjakan pekerjaan yang sama dengan kecepatan yang sama pula. Setiap siswa memiliki intelegensi daya tangkap dan pemahaman yang berbeda. Seharusnya siswa bekerja sesuai dengan kemampuan dan kecepatan yang dimilikinya.

Siswa yang memiliki kemampuan yang lebih dapat mengerjakan tugas lebih banyak dari pada siswa yang memiliki keterbatasan kemampuan. Pengamatan kredibilitas dari seorang guru tetap ada, mana siswa yang berkemampuan lebih tinggi akan mendapat poin nilai tambahan dari nilai tugas kelompok yang di berikan.

Selama proses kolaboratif, siswa dapat terlibat dalam mengembangkan prosedur kurikulum dan kelas (Kort 1992). Mereka sering diminta untuk menilai diri sendiri, kelompok mereka, dan prosedur kelas (Meier & Panitz 1996).

Guru dapat mengambil keuntungan dari masukan formatif tanpa harus menunggu hasil ujian atau evaluasi saja. Siswa yang berpartisipasi dalam penataan kelas menganggap kepemilikan dari proses dan pendapat mereka serta diberikan pengamatan kredibilitas.

Fokus utama dalam pembelajaran kolaboratif adalah proses belajar dan mereka berarti kelompok dengan fungsi individual yang independen dan dalam. Tingginya tingkat interaksi dan saling ketergantungan antara anggota kelompok mengarah ke “dalam” daripada belajar “permukaan” (Entwistle dan Tait, 1994), dan lebih menekankan pada pembelajaran yang lebih tinggi.

Pembelajaran kolaboratif adalah terpusat pada siswa, menyebabkan penekanan pada belajar serta mengajar dan untuk kepemilikan lebih dari tanggung jawab siswa untuk belajar itu.  pengujian kompetitif untuk menilai kompetensi dan hirarki penilaian berdasarkan “orientasi nilai” bukan “orientasi belajar” (Lowman, 1987).


4. Nilai kelompok di bagi dengan jumlah anggota kelompok

Mitos ini tidaklah benar karena nilai kelompok menetapkan hasil kerja sama dari tiap anggota kelompok sehingga wajar bila nilai satu kelompok harus dibagi rata dengan sesama anggota kelompok.

Sekurang – kurangnya terdapat lima unsur dasar agar dalam suatu kelompok terjadi pembelajan kolaboratif, :
Saling ketergantungan positif. Dalam pembelajaran ini setiap siswa harus merasa bahwa ia bergantung secara positif dan terikat antar sesama anggota kelompoknya dengan tanggung jawab yaitu: menguasai bahan pelajaran, dan memastikan semua anggota kelompoknya pun menguasainya. Mereka merasa tidak akan sukses bila siswa lain juga tidak sukses.

Interaksi langsung antar siswa.Hasil belajar yang terbaik dapat diperoleh dengan adanya  komunikasi perbal antar siswa. Saling berhadapan dan saling membantu dalam pencapaian tujuan belajar.

Pertanggung jawaban individu, Agar dalam suatu kelompok siswa dapat menyumbang, mendukung dan membantu satu sama yang lain, setiap siswa di tuntut harus menguasai materi yang di jadikan pokok bahasan. Dengan demikian setiap anggota kelompok bertanggung jawab untuk mempelajari pokok bahasan dan bertanggungjawab pula terhadap hasil belajar kelompok.

Keterampilan berkolaborasi.Keterampilan sosial siswasangat penting dalam pembelajaran kolaborasi . siswa dituntut berketerampilan berkolaborasi sehingga dalam kelompok tercipta interaksi yang dinamis untuk saling belajar dan membelajarkan yang merupakan bagian dari pembelajaran kolaboratif.

Keefektifan proses kelompok. Siswa memproses keefektifan kelompok belajar dengan cara menjelaskan tindakan mana yang dapat menyumbang belajar dan mana yang tidak serta membuat keputusan- keputusan tindakan yang dapat di lanjutkan atau yang perlu di ubah.

5.Belajar kolaboratif itu mudah.

 Mitos ini tidaklah benar karena belajar kolaboratif bersifat komplek banyak aspek yang dinilai, bukan hanya hasil belajar melainkan sikap, keterampilan dan kerjasama yang baik dalam kelompok. Untuk itu diperlukan instrumen penilaian yang khusus. Dengan demikian siswa aktif dalam belajar dan guru juga bertugas untuk membimbing, mengarahkan dan mengawasi.

Pembelajaran kooperatif panggilan inheren untuk manajemen diri sendiri oleh siswa (Resnick 1987). Dalam rangka untuk berfungsi dalam kelompok, siswa dilatih untuk siap dengan tugas dan mereka harus memahami materi yang akan mereka memberikan kontribusi untuk kelompok mereka. Mereka juga diberi waktu untuk proses perilaku kelompok seperti memeriksa satu sama lain untuk membuat tugas pekerjaan rumah, memastikan tidak hanya selesai tetapi dipahami. Interaksi ini promotif membantu siswa teknik manajemen belajar mandiri.

Pembelajaraan kooperatif meningkatkan ketekunan siswa dan kemungkinan berhasil menyelesaikan tugas (Felder 1997). Ketika individu terjebak mereka lebih cenderung untuk menyerah, namun kelompok jauh lebih mungkin untuk menemukan cara untuk terus berjalan. Konsep ini diperkuat oleh Johnsons (1990 p121) yang menyatakan, “Dalam situasi belajar, sasaran prestasi siswa berkorelasi positif, siswa dalam kelompok belajar juga mencapai tujuan mereka. Dengan demikian, siswa mencari hasil yang bermanfaat bagi semua orang dengan siapa mereka terkait bekerja sama.


6. Sekolah dapat berubah hanya dalam sekejab.

Mitos ini tidaklah tepat, karena mustahil karena perubahan memerlukan waktu yang lama dan bertahap dimulai dari perencanaan, program, evaluasi, dan diakhiri tindak lanjut.

Keterbatasan Pembelajaran  Kooperatif (Wina Sanjaya, 2008: 250-251)  Untuk memamhami dan mengerti filsofis pembelajaran kooperatif memang butuh waktu. Sangat tidak rasional kalau kita mengharapkan secara otomatis siswa dapat mengerti dan memahami filsafat kooperatif. Untuk siswa yang dianggap memiliki kelebihan. Contohnya, mereka akan merasa terhambat oleh siswa yang dianggap kurang memiliki kemampuan. Akibatnya, keadaan semacam ini dapat mengganggu iklim bekerja sama dalam kelompok.

Ada keterbatasan pembelajaran kooperatif ini seperti dalam ( Wina Sanjaya, 2008: 250-251 )yaitu:
Untuk memahami dan mengerti filosofis pembelajaran kooperatif memang butuh waktu. Sangat tidak rasional kalau kita mengharapkan secara otomatis siswa dapat mengerti dan memahami filsafat kooperatif. Untuk siswa yang dianggap memiliki kelebihan mereka akan merasa terhambat oleh siswa yang dianggap kurang memiliki kemampuan. Sehingga keadaan semacam ini dapat mengganggu iklim bekerja sama dalam kelompok.

Penilaian yang diberikan dalam pembelajaran kooperatif didasarkan pada hasil kerja kelompok. Namun demikian guru perlu menyadari, bahwa seharusnya hasil atau prestasi yang diharapkan adalah prestasi setiap individu siswa.

Keberhasilan dalam pembelajaran kolaboratif dalam upaya mengembangkan kecerdasan berkelompok memerlukan periode waktu yang cukup panjang. Dan hal ini tidak mungkin dapat tercapai hanya satu kali.

Walaupun kemampuan kerjasama merupakan kemampuan yang sangat penting untuk siswa, akan tetapi banyak aktifitas dalam kehidupan yang hanya didasarkan pada kemampuan secara individual. Oleh karena itu, idealnya melalui pembelajaran kooperatif selesai siswa belajar bekerjasama siswa juga harus belajar bagai mana membangun kepercayaan diri.

Jadi dari penjelasan di atas untuk pembelajaran kolaboratif tidak semudah membalik telapak tangan  tetapi butuh waktu dan mempunyai proses yang sangat panjang.

























TUJUH  PILAR PRINSIP BELAJAR YANG MENGOPTIMALKAN HASIL  BELAJAR  DAN  MENJANJIKAN  KITA  DAPAT  MEREBUT  POTENSI  PUNCAK YANG  DIINGINKAN :


1.MEMILIKI ARAH YANG JELAS DAN TERPOKUS

Memiliki arah yang jelas dan terpokus sangat lah penting bagi seorang guru sebelum malakukan proses pembelajaran, guru menjelaskan dengan membuat perangkat pembelajaran dengan memilih model atau metode yang tepat dengan tujuan untuk mengoptimalkan hasil belajar, hal ini berkaitan erat dengan kurikulum.

Pada dasarnya, kurikulum adalah cara untuk membantu para pendidik  memikirkan pekerjaan yang menjadi tanggung jawab mereka sebelum, semasa, dan sesudah mereka melaksanakannya; yakni sebagai alat yang memungkinkan para pendidik untuk memberikan penilaian terhadap arah dari pekerjaan yang mereka lakukan. Inilah apa yang dikatakan oleh Stenhouse.
Setidak-tidaknya, kurikulum harus memberikan dasar bagi perencanaan sebuah mata pelajaran, pengkajiannya secara empiris dan memberikan dasar-dasar untuk menjustikasinya. Ia harus menawarkan:
Dalam perencanaan
Prinsip penseleksian materi/isi, yakni apa yang harus dipelajari dan diajarkan.Prinsip-prinsip dalam mengembangkan strategi mengajar – bagaimana caranya materi itu dipelajari dan diajarkan.
Prinsip-prinsip dalam pengambilan keputusan tentang urutan materi.
Prinsip-prinsip yang dijadikan dasar untuk mendiagnosa kekuatan dan kelemahan masing-masing siswa dan untuk membedakan prinsip-prinsip umum 1, 2 dan 3 disebutkan di atas.

Dalam kajian empiris
Prinsip-prinsip yang diajadikan dasar untuk mengkaji dan mengevaluasi kemajuan para siswa.Prinsip-prinsip yang dijadikan dasar untuk mengkaji dan mengevaluasi kemajuan para guru. Bimbingan tentang kelayakan implimentasi kurikulum pada konteks sekolah, konteks siswa, lingkungan dan peer group yang berbeda-beda.
Informasi tentang keberagaman dampak dari konteks yang berbeda-beda itu terhadap siswa yang berbeda dan pemahaman tentang penyebab dari variasi-variasi tersebut.

2. MENGEMBANGKAN 3 POTENSI MANUSIA SECARA UTUH 
    DAN BERKESINAMBUNGAN
         
Terdapat 3  potensi yang harus dikembangkan dalam diri siswa secara utuh yaitu:
1.   Pengembangan pengetahuan ( koknitif ).
2.   Pengembangan sikap ( Afektif ).
3.   Dan pengembangan keterampilan  ( psikomotor ).

Dalam proses pembelajaran terdapat klasifikasi hasil dari proses itu, yaitu antara lain:
·         10 % dari yang kita dengar
·         20 % dari yang kita baca
·         30 % dari yang kita lihat
·         50 % dari yang kita lihat dan kita dengan
·         70 % dari yang kita katakan
·         90 % dari yang kita katakan dan lakukan



3.  BERSIAP UNTUK MENJADI PEMENANG

Setelah siswa meraih tiga potensi tersebut dan selalu mengembangkan kemampuannya mereka siap untuk bersaing baik di lingkungan sekolah maupun dilingkungan masyarakat.
Dan juga mampu di bersaing dunia usaha atau dunia industri.


4. MEMILIKI IMPIAN YANG SELALU BERGELORA

Guru selalu mempunyai ide atau gagasan dalam menciptakan suasana yang menyenangkan dalam proses pembelajaran, juga menciptakan inovasi yang kreatif dalam proses pembelajaran. Sebagai mana kewajiban seorang guru dalam landasan UU RI No. 20 pasal 40 ayat (2) itu adalah :
Menciptakan suasana pendidikan yang bermakna, menyenangkan, kreatif dinamis dan logis. Mempunyai komitmen secara propesional untuk meningkatkan mutu pendidikan dan memberikan teladan dan menjaga nama baik lembaga, propesi dan kedudukan sesuai dengan kepercayaan yang di berikan


Siswa di harapkan selalu meningkatkan potensinya, dengan memiliki keterampilan – keterampilan, cita – cita yang tinggi dan selalu optimisme.

5.SELALU BERUSAHA MERETAS BANGKITNYA KEMALASAN DAN KETERTINGGALAN.

Motivasi belajar merupakan suatu keadaan atau kondisi yang mendorong, merangsang atau menggerakan seseorang untuk belajar sesuatu atau  melakukan kegiatan untuk mencapai suatu tujuan
Seorang guru harus dapat membangkitkan semangat para siswa dengan selalu berpedoman pada perkembangan zaman atau perkembangan teknologi.
Payaman J. Simanjuntak (2001:199) mengatakan bahwa, motivasi dalam sekolah merupakan proses bagaimana menumbuhkan dan menimbulkan dorongan supaya seseorang berbuat atau belajar.Motifasi berarti suatu perangsang atau dorongan dari dalam (inner drive) yang menyebabkan seseorang membuat sesuatu.


 6.  BERUSAHA  MENJADI YANG TERBAIK
         
Seorang guru di harapkan mampu untuk menjadi guru yang profesional, yaitu  selalu mengupayakan kecerdasan bangsa  ini tidak terlepas dari tanggung jawab seorang guru. Dengan penuh dedikasi dan loyalitas, guru berusaha membimbing dan membina anak didik agar di masa datang menjadi orang berguna bagi nusa dan bangsa.

Menurut Wahyuningsih dan Zein ( 2005 )menyebutkan ciri-ciri propesional, berdasarkan kutipan dari : T. Raka Joni
a. menguasai visi yang mendasari keterampilan
b. mempunyai wawasan filosofi
c. mempunyai pertimbangan rasional
d.memiliki sifat positif serta mengembangkan mutu kerja

CV  Good :

a. memerlukan persiapan dan pendidikan khusus bagi pelaku
b. memiliki kecakapan profesional sesuai dengan persyaratan  yang telah dilakukan (organisasi profesi dan pemerintah
c. mendapat pengakuan dari masyarakat dan pemerintah.

7.  MENJADI DIRI SENDIRI
     
      Penjelasan : seorang guru harus mempunyai pribadi yang teguh akan pendirian , menjadi diri sendiri, tidak terpengaruh terhadap yang lain.Berkarya dengan karya sendiri  dan tidak meniru karya orang lain.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar